Jurnal UNY - Detail artikel

Risalah

Risalah Vol 3 Edisi 4 April 2014

MONUMEN SETU LEGI SEBAGAI SAKSI SEJARAH AGRESI MILITER

BELANDA II (1948-1949) DI YOGYAKARTA KHUSUSNYA DI DESA

Penulis 1 : DIAH ISWARAWATI (08406244032)
Penulis 2 : Hj. Harianti, M.Pd
Abstrak

ABSTRAK

Pada tanggal 19 Desember 1948 Kota Yogyakarta telah diduduki oleh pasukan Belanda. Pemerintah Pusat segera mengambil tindakan. Lurah sebagai kepala pemerintahan paling bawah, mendapat instruksi agar semua warga diberi penerangan untuk siap siaga apabila terjadi serangan secara mendadak. Banyak koraban jiwa yang jatuh dalam peristiwa tersebut. Monumen Setu Legi sebagai salah satu saksi sejarah kekejaman Belanda saat melakukan operasi di Desa Argomulyo, Sedayu, Bantul. Penulisan skripsi ini bertujuan untuk: (1) mengetahui gambaran sejarah wilayah Desa Argomulyo pada tahun 1948, (2) terjadinya peristiwa serangan Belanda di Desa Argomulyo saat Agresi Militer Belanda II di Yogyakarta, dan (3) latar belakang didirikannya Monumen Setu Legi di Desa Argomulyo.

Penulisan skripsi ini menggunakan metode sejarah yang terdiri dari lima langkah, yakni: (1) Pemilihan Topik, yaitu kegiatan awal dalam sebuah penelitian untuk menentukan permasalahan yang akan dikaji (2) Heuristik, yaitu kegiatan menghimpun jejak-jejak masa lalu yang dikenal dengan sumber sejarah, (3) Kritik Sumber, kegiatan meneliti jejak atau sumber sejarah yang telah dihimpun sehingga diperoleh fakta sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan; (4) Interpretasi, yaitu menetapkan makna yang saling berhubungan dari fakta-fakta sejarah yang telah diperoleh; (5) Historiografi, yaitu kegiatan menyampaikan sintesa yang telah diperoleh ke dalam bentuk karya sejarah.

Hasil penelitian ini menujukkan bahwa, nama Argomulyo diambil dari kata argo artinya bukit, dan mulyo artinya mulia. Nama itu tidak lepas dari kondisi tanahnya yang subur dan berbukit. Nama Kalurahan Argomulyo sangat erat hubungannya dengan Maklumat Gubernur Kepala Daerah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 6 tahun 1946 tentang Otonomi dan Penggabungan Kalurahan. Bulan Juni 1946 tiap Panewu membentuk Gabungan Dewan Kalurahan. Panewu sebagai ketua, anggotanya adalah tokoh terkemuka tiap kalurahan. Berasal dari empat kalurahan, Kalurahan Kemusuk, Kalurahan Watu, Kalurahan Pedes, Kalurahan Kaliberot digabung menjadi satu, dan diberi nama Kalurahan Argomulyo. Untuk mengenang perlawanan gerilya yang dilancarkan oleh masyarakat Argomulyo terhadap Belanda, berupa pengacauan dan perlawanan langsung, maka didirikan Monumen Setu Legi. Pendirian monumen ini dilatarbelakangi oleh peristiwa pada hari Sabtu Legi, 7 Januari 1949, Belanda melakukan opersi secara mendadak dan banyak korban yang berjatuhan. Beberapa perangkat desa disandera agar mau menunjukkan markas TNI ataupun orang-orang yang berkhianat kepada mereka. Jumlah korban jiwa ada 23 orang, dan rumah yang dibakar berjumlah 123 unit.

Kata Kunci
Agresi Militer Belanda II, Monumen Setu Legi, Desa Argomulyo.

Abstract

ABSTRACT

On December 19, 1948 the city of Yogyakarta was occupied by Dutch troops. Central Government to take immediate action. Headman as the head of the government down, get instructions for all citizens to be on alert lighting in the event of a sudden attack. Koraban many lives lost in the incident. Monument Setu Legi as one witness history Dutch atrocities while doing an operation in the village of Argomulyo, Sedayu, Bantul. This thesis aims to: (1) find a picture of the history of Argomulyo Village area in 1948, (2) the occurrence of the events of the Dutch in the village of Argomulyo when the Dutch Military Aggression II in Yogyakarta, and (3) the background of the establishment of monuments in the village of Setu Legi Argomulyo .
This thesis uses historical method consists of five steps, namely: (1) The selection of topics, the initial activity in a study to determine the issues to be studied (2) heuristic, namely collecting activity traces of the past, known as a source of history , (3) Criticism Sources, researching activities or sources trace the history that has been collected in order to obtain a historical fact that can be accounted for; (4) Interpretation, which establishes interconnected meanings of historical facts that have been obtained; (5) Historiography, which convey synthesis activity has been obtained in the form of work history.
The results of this study showed that, the name is taken from the word meter Argomulyo meaning hill, and mulyo means noble. The name was not separated from the fertile soil conditions and hilly. Name Kalurahan Argomulyo very closely related to the edict of the Governor of Yogyakarta Special Province No. 6 of 1946 on Autonomy and Merger Kalurahan. June 1946 each panewu form Kalurahan Joint Council. Panewu as chairman, the members are each prominent figures kalurahan. Derived from four kalurahan, Kalurahan Kemusuk, Kalurahan Watu, Kalurahan Pedes, Kalurahan Kaliberot merged into one, and named Kalurahan Argomulyo. To commemorate the guerrilla resistance waged by the people Argomulyo against the Netherlands, in the form of rioting and resistance directly, then founded Memorial Setu Legi. The establishment of this monument is motivated by the Legi event on Saturday, January 7, 1949, the Dutch did opersi suddenly and many casualties. Some of the villagers held hostage to want to show military headquarters or the people who betrayed them. The number of fatalities there are 23 people, and destroyed homes totaling 123 units.

Keyword
Dutch Military Aggression II, Monument Setu Legi, Argomulyo village.
Untuk Download silahkan terlebih dahulu

Shared

Calendar
December 2018
ASSRKJS
1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031

Form Login
User
Password
Security Code
Security Code


Pencarian


Jurnal berlangganan

search.epnet.com http://infotrac.galegroup.com/itweb/ptn066 http://search.proquest.com/



Berita UNY


Twitter @JournalMhsUNY
terjadai kesalahan pada twitter coba beberapa saat lagi Follow Me (@JournalMhsUNY)